Gak Bisa Diam, Sisi Gelap Ambisi Gen Z
“Masih rebahan? Temanmu sudah kerja, lho.” Kalimat seperti itu mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi banyak anak muda, ucapan tersebut sering kali menjadi pengingat bahwa hidup seolah tidak boleh berhenti bergerak. Bangun pagi harus produktif, siang kuliah atau bekerja, sore mengikuti organisasi, malam mengerjakan tugas, lalu mengulang rutinitas yang sama keesokan harinya. Di tengah derasnya arus media sosial, tekanan itu terasa semakin nyata. Beranda dipenuhi cerita tentang teman yang baru diterima kerja, membangun bisnis, lulus lebih cepat, atau berhasil meraih berbagai pencapaian di usia muda. Tanpa disadari, muncul pertanyaan dalam benak, ”Kenapa aku belum sampai di titik itu?” Keinginan untuk berkembang memang bukan hal yang salah. Namun, ketika seseorang merasa harus terus bekerja dan tidak bisa menikmati waktu istirahat karena takut tertinggal, di situlah toxic productivity mulai mengambil peran. Fenomena ini semakin sering dialami oleh Generasi Z. Budaya kompetitif dan papa...